Jumat, 03 April 2009

Perasaan Orangtua Terhadap Anak

Yang dimaksud perasaan di sini adalah, sentuhan cinta dan kasih sayang orangtua terhadap anak-anaknya. Hikmahnya adalah menghilangkan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah yang menguasai jiwa yang sakit. Yakni, pandangan negatif terhadap anak perempuan, memperlihatkan keutamaan pahala dan balasan bagi orang yang sabar karena kehilangan anak, serta tabah karena berpisah dengannya. Dan terakhir adalah apa yang harus dikerjakan oleh kedua orangtua apabila kepentingan Islam bertentangan dengan kepentingan anak.

A. Kedua Orangtua Secara Fitrah Akan Mencintai Anak
Di dalam hati kedua orangtua secara fitrah akan tumbuh perasaan cinta terhadap anak dan akan tumbuh pula perasaan lainnya, berupa rasa kebapakan dan keibuan.

Andaikan perasaan-perasaan semacam itu tidak ada, niscaya umat manusia akan lenyap dari muka bumi, dan kedua orangtua tidak akan sabar memelihara anak-anak mereka, tidak mau mengasuh dan mendidik, tidak mau memperhatikan persoalan dan kepentingan-kepentingan anaknya.

Karenanya, tidak aneh jika al-Quran menggambarkan perasaan-perasaan yang benar ini dengan gambaran yang sebaik-baiknya. Sehingga sesekali al-Quran menggambarkan anak-anak sebagai perhiasan hidup, “Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia...” (QS. al-Kahfi: 46).

Sesekali al-Quran memandang mereka sebagai nikmat agung yang berhak untuk disyukuri kepada Allah Swt., “...dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” (QS. al-Isra: 6).

Sesekali pula memandangnya sebagai pelipur hati, bila saja mereka sejalan dengan orang-orang yang bertakwa, “Dan orang orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. al-Furqan: 74).

Masih banyak lagi ayat-ayat al-Quran yang mengilustrasikan perasaan-perasaan kedua orangtua terhadap anak dan membuka tabir kebenaran perasaan dan kecintaan hati mereka terhadap buah hati mereka. Semua itu tidak lain merupakan fitrah yang ada dalam diri manusia. “...(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan fitah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah...” (QS. ar-Rum: 30).

B. Kasih Sayang Terhadap Anak Merupakan Anugerah Allah Kepada Hamba
Di antara perasaan mulia yang ditanamkan Allah di dalam hati kedua orangtua itu adalah perasaan kasih sayang orangtua terhadap anaknya. Perasaan ini merupakan kemuliaan baginya di dalam mendidik, mempersiapkan dan membina anak-anak untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan yang besar.

Orang yang hatinya kosong dari perasaan kasih sayang akan bersifat keras dan kasar. Tidak diragukan lagi bahwa di dalam sifat-sifat yang buruk itu, akan terdapat membawa anak-anak ke dalam penyimpangan dan kebodohan.

Oleh karena itu, syariat Islam telah menanamkan tabiat kasih sayang di dalam hati, dan menganjurkan kepada para orangtua, para pendidik dan orang-orang yang bertanggung jawab atas pendidikan anak untuk memiliki sifat itu.

Rasulullah Saw. sangat memperhatikan masalah kasih sayang ini dalam beberapa sabdanya:

“Tidaklah termasuk golongan kami, orang-orang yang tidak mengasihi anak kecil di antara kami dan tidak mengetahui hak orang besar di antara kami.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Abu Hurairah Ra. mengatakan, “Nabi Saw. telah didatangi seorang laki-laki yang membawa seorang bayi. Kemudian beliau memeluknya dan bersabda, ‘Apakah engkau menyayanginya?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Tentu saja’. Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya Allah lebih menyayanginya daripada kasih sayangmu terhadapnya. Sesungguhnya Dia Dzat Yang Maha Pengasih dibanding orang-orang yang mengasihi.” (HR. Bukhari).

Jika Rasulullah Saw. melihat salah seorang sahabatnya tidak mengasihi anak-anaknya, maka beliau mencemoohnya dan memberikan pengarahan perihal kebaikan rumah tangga, keluarga dan anak-anak.

Aisyah Ra. berkata, “Seorang A’rabi telah mendatangi Nabi Saw. dan berkata, ‘Apakah engkau menciumi anak-anakmu, sedang kami belum pernah melakukan hal itu’. Maka, Nabi Saw. bersabda, ‘Apakah engkau ingin Allah mencopot rasa kasih sayang dari hatimu?’” (HR. Bukhari).
Abu Hurairah Ra. berkata, “Rasulullah Saw. telah menciumi al-Hasan bin Ali. Ketika itu di sisi beliau duduk al-Aqra bin Habis at-Tamimi. Al-Aqra berkata, ‘Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tapi tak satu pun di antara mereka pernah aku cium’. Maka Rasulullah Saw. memandangnya dan bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi’.” (HR. Bukhari).

Anas bin Malik Ra. berkata, “Seorang wanita telah mendatangi Aisyah Ra., kemudian Aisyah memberi tiga buah kurma kepada wanita itu, kemudian wanita itu memberi satu buah kurma kepada setiap anaknya. Dan ia sendiri memegang satu buah kurma. Dua orang anak memakan dua buah kurma itu dan melihat ibunya. Kemudian, sang ibu sengaja (memegang) kurma dan membelahnya, lalu memberikan setiap belahan kurma itu kepada masing-masing anak. Maka datanglah Nabi Saw. dan Aisyah memberitahukan kepadanya (apa yang dilakukan oleh wanita itu). Beliau bersabda, ‘Apa yang telah membuatmu heran dari perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah telah mengasihi wanita itu disebabkan kasih sayang kepada anaknya’.” (HR. Bukhari).

Apabila Rasulullah Saw. melihat seorang anak kecil mendekati ajal, maka berlinanglah air matanya sebagai tanda kesedihan dan kasih sayangnya dan sebagai pelajaran bagi umat.

Usamah bin Ziad Ra. berkata, “Putri Nabi Saw. telah mengutus seorang kepada bapaknya untuk memberitahukan sekaligus berharap menjenguk putranya yang dalam keadaan sekarat. Maka Nabi Saw. mengutus seseorang kepadanya membacakan salam dan bersabda, ‘Sesungguhnya bagi Allah apa yang diambil(Nya) dan bagi Dialah apa yang diberi(Nya). Segala sesuatu mempunyai masa yang ditentukan baginya. Maka bersabarlah dan janganlah merasa kehilangan’.

Kemudian putrinya itu mengutus (utusan) kepadanya dengan bersumpah kepadanya agar beliau mendatanginya. Maka bangkitlah beliau bersama Sa’ad bin Ubadah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan kaum lelaki lainnya. Kemudian anak kecil itu di angkat kepada Rasulullah Saw. dan mendudukkan di dalam buaiannya, sedangkan nafasnya bergerak tersendat-sendat, sehingga berlinanglah airmata beliau. Sa’ad bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa artinya ini?’ Beliau bersabda, ‘Ini adalah kasih sayang yang telah Allah Swt. tanamkan di dalam hati para hamba-Nya’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidaklah mengherankan apabila kasih sayang itu telah tertanam di dalam hati kedua orangtua. Mereka akan melaksanakan kewajibannya dan melindungi hak serta bertanggung jawab terhadap anak-anak, sebagai kewajiban yang telah dipikulkan Allah kepada mereka.

C. Membenci Anak Perempuan Sebagai Perbuatan Jahiliyah
Islam mengumandangkan persamaan derajat pria dan wanita dan tidak membedakan perlakuan kasih sayang dan keadilan keduanya. “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa...” (QS. al-Maidah: 8).

Juga sesuai dengan perintah Rasulullah Saw. yang bersabda, “Berbuat adillah di antara anak-anakmu, berbuat adillah di antara anak-anakmu, berbuat adillah di antara anak-anakmu.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Apabila di dalam masyarakat muslim terdapat orangtua yang memandang anak perempuan berbeda dengan anak laki-laki, maka hal ini disebabkan oleh lingkungannya telah terserap dari kebiasaan jahiliyah dan tradisi sosial tercela.

Allah Swt. berfirman, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. an-Nahl: 58-59).

Di samping itu, hal ini juga bisa disebabkan oleh lemahnya iman dan rapuhnya keyakinan. Yang demikian itu dikarenakan mereka tidak merasa rela menerima bagian yang diberikan Allah kepadanya, yakni kelahiran anak perempuan.

Allah Swt. berfirman, “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. asy-Syura: 49-50).

Dikisahkan, bahwa seorang menteri Arab yang bernama Abu Hamzah menikahi seorang wanita. Menteri itu mengharapkan istrinya melahirkan seorang anak untuknya. Tetapi, ternyata istrinya melahirkan seorang anak perempuan. Kemudian menteri itu meninggalkan rumah istrinya dan pindah ke rumah lain. setelah setahun si istri itu menyembunyikan anak perempuannya itu, tiba-tiba menteri itu melihat istrinya sedang mengajak bermain anaknya dengan membaca beberapa bait syair. Ia berkata di dalam syairnya:
Mengapa Abu Hamzah tidak datang kepada kita
Berdiam di sebuah rumah yang bukan rumah kita
Ia sangat marah karena kita tidak melahirkan anak pria
Demi Allah, hal itu di luar kekuasaan kita
Kita hanya mengambil apa yang telah diberikan kepada kita

Menteri tersebut kemudian memasuki rumahnya lagi setelah istrinya memberikan pelajaran kepadanya tentang keimanan, keridhaan dan keyakinan. Kemudian mencium kening istri dan putrinya. Dia rela atas pemberian Allah yang telah ditentukan baginya.

Rasulullah Saw. telah mencabut akar budaya jahiliyah yang mengecualikan anak perempuan dari anak laki-laki. Beliau memerintahkan kepada para orangtua dan pendidik untuk menemani, memelihara dan bertanggung jawab atas urusan-urusan mereka secara baik, agar mereka termasuk ahli surga.

Berikut penulis sajikan sunnah Rasulullah Saw. tentang kewajiban dan memperhatikan anak perempuan.

“Siapa saja yang memelihara dua orang anak perempuan hingga mereka berdua balig, maka pada hari kiamat dia dan aku bagaikan dua ini – beliau menggenggam jari jemarinya.” (HR. Muslim).

“Siapa yang mempunyai tiga orang anak perempuan, kemudian ia bersabar terhadap mereka, memberikan minum dan pakaian kepada mereka (dari hartanya), maka mereka itu akan menjadi pelindung dari api neraka.” (HR. Ahmad).

“Siapa yang mempunyai tiga anak wanita atau tiga saudara wanita atau dua anak wanita atau dua saudara wanita, kemudian ia memperlakukan mereka secara baik dan bersabar terhadap mereka serta bertakwa kepada Allah, maka ia akan masuk surga.” (HR. Al-Humaidi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar